​Beranjak dari keegoisan diri sendiri menuju kesalahan besar yg sering kali terjadi di waktu² yg tak berbeda menentang apapun yg terasa tak nyaman bahkan memberontak kewajiban yg harus dipenuhi setiap saat berperan membangkang dari belenggu peraturan normal dalam kehidupan seperti telah menguasai dunia sementara diri masih sangat rentan terhadap teriknya matahari di dunia luar tidak menjadi mustahil jika akan terjatuh dalam jurang yg sama seperti biasa kemudian bangkit dan mengulangi perbuatan yg sama pula namun pasti ada saatnya terjatuh hingga sulit untuk kembali bangkit seakan terengah-engah sulit bernafas tenggelam dalam kesakitan dan kekecewaan yg selalu datang di waktu percuma setelah semua telah terjadi. Salah, manusia tak akan luput dari kesalahan sekecil apapun kesalahan sudah seperti syarat wajib menjalani hari tapi bukan berarti itu tak harus diperbaiki memang seharusnya dibenahi namun sekeras apapun cara untuk membenahi tetap saja akan selalu ada noda di selembar kain putih nun suci bukan berarti percuma setidaknya berguna menjadi pembelajaran untuk selalu berhati-hati dalam setiap keadaan yg memungkinkan untuk mengubah keburukan yg telah menjalar seperti benalu dalam jiwa. selanjutnya tinggal bagaimana kata “maaf” menjadi titik akhir dimana penyesalan terbesar terasa sangat menyakitkan dan menyedihkan berharap dapat menghapus dosa-dosa sembari air mata yg mencoba menjadi saksi seberapa tulus semua kemunafikan itu berubah menjadi kejujuran.

Advertisements